Peningkatan Kapasitas Bidang TPHP di Aloeland Nglipar Gunungkidul dan Kawasan Studi dan Konservasi Tyto Alba Sleman
Peningkatan Kapasitas Bidang TPHP di Aloeland Nglipar Gunungkidul dan Kawasan Studi dan Konservasi Tyto Alba Sleman
Yogyakarta- Bidang TPHP Distapang melakukan Peningkatan Kapasitas di Aloeland Nglipar Gunungkidul budidaya Komoditas lidah buaya (Aloe Vera) dan Kawasan Studi dan Konservasi Tyto Alba Sleman dilaksanakan pada hari Rabu dan Kamis 8-9 November di Nglipar Gunungkidul dan Sleman Yogyakarta Kabid TPHP Ir Sus Agus Sutirto, mengucapkan sangat berterima kasih sekali atas sambutan yang sangat baik, dari tim aloeland dan Kawasan Studi Dan Konservasi Tyto Alba dan berharap dapat mengembangkan di Kabupaten Kebumen, pengembangan lidah buaya di gunung kidul sangat menarik sekali untuk dipelajari dari hulu sampai hilir, Pengelola aloeland menjelaskan tentang peluang pasar yang sangat besar lidah buaya untuk ekspor, dan melihat lokasi mendukung di gunung kidul sehingga tertarik untuk membudidayakan dan hama penyakit yang sangat jarang menyerang tanaman tersebut, fungsinya juga sangat banyak, syarat tumbuh lidah buaya di tanah kering, tidak lembab, cukup sinar matahari dan perawatannya juga mudah dan panen setahun sekali, lidah buaya dapat dikembangkan juga di dalam pot dengan galon bekas dan biaya yang cukup murah, proses produksi lidah buaya di petik, direndam, dicuci, dikupas, dipotong, di aduk sampai keluar lendir, dicuci sampai bersih, potongan lidah buaya direndam asam citrit untuk menjaga tekstur tetap kres, direndam semalam sebelum direbus direndam lagi pakai air biasa selama 2 jam dan direbus dengan air mendidih dan dikemas pada saat masih panas bertujuan agar bakteri tidak masuk ke produk, untuk Kawasan dan Studi dan Konservasi Tilto Alba Kabid TPHP berharap agar dapat meng aplikasikan bagaimana Rubuha ( Rumah Burung Hantu ) di kebumen dapat di manfaatkan dengan baik, untuk membantu petani dalam mengendalikan hama khususnya tikus untuk membantu meningkatkan Produktivitas tanaman pertanian di Kebumen, menurut pengola konservasi tersebut Tyto Alba dapa memangsa dalam 5 bulan 1080 ekor tikus untuk 6 ekor, dan satu sarang biasanya 10 butir telur dan adanya Tyto Alba dapa meminimalisir kerusakan tanaman padi dari serangan hama tikus, dalam satu tahun per ekor burung hantu dapat membantu untuk peningkatan produksi sekitar 12 juta rupiah untuk produksi padi, pembunuh terbesar burung hantu adalah racun tikus, maka petani dianjurkan tidak menggunakan racun tikus dapat merusak habitat Tyto Alba (9/11).
